RSS

Traffic Engineering Pada Jaringan

Hallo sobat. yuk share lagi tentang ilmu jaringan . dan ini lah yang sudah saya ringkas mengenai Traffic Engineering :)

TRAFFIC ENGINEERING
Menurut Ravi Gamesh V, et al(2006, p l), Traffic Engineering adalah sebuah proses dikontrolnya aliran trafik yang melewati jaringan agar kinerja penggunaan resource dan jaringan menjadi optimal. Terdapat di dalamnya berupa pemindahan traffic sehingga traffic dari link yang memiliki congestion dipindahkan ke link yang sedang tidak digunakan. Traffic Engineering dapat diimplentasikan dengan cara semudah tweaking IP metrics dalam interface atau sesuatu yang serumit menjalankan sebuah ATM PVC ful-mesh dan mengoptimalisasi jalur PVC berdasarkan permintaan traffic yang melewatinya.
            Menurut Osbone, et al(p27), IP traffic engineering berfungsi mengontrol jalur IP pada jaringan. Namun tidak dapat mengontrol jalur dari mana trafik itu datang tetapi hanya bias mengontrol ke mana tujuan trafik itu. Banyak pendapat tentang Traffic Engineering.
            Adapun pendapat menurut Wastuwibowo(2003, p9), Rekayasa trafik(traffic engineering, TE) adalah proses pemilihan saluran data trafik untuk menyeimbangkan beban trafik pada berbagai jalur dan titik dalam network. Tujuan akhirnya adalah memungkinkan operasional network yang handal dan efisien, sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan permomansi trafik.
            Traffic Engineering sering juga disebut dengan MPLS-TE (Multiprotocol Label Switching-Traffic Engineering). Ada beberapa masalah yang berkaitan dengan MPLS-TE yaitu :

·        Pemetaan paket ke dalam FEC
·         Pemetaan paket ke dalam trunk trafik
·         Pemetaan trunk trafik ke topologi network fisik melalui LSP


MPLS –TE mempunyai beberapa komponen yang terdiri dari :

·         Manajemen Path
·         Penempatan Trafik
·         Penyebaran keadaan netwok
·         Manajemen network
·         Protocol persinyalan


1.      MANAJEMEN PATH

Manajemen path meliputi proses-proses pemilihan route eksplisit berdasar kriteria tertentu, serta pembentukan dan pemeliharaan tunnel LSP dengan aturan-aturan tertentu. Proses pemilihan route dapat dilakukan secara administratif, atau secara otomatis dengan proses routing yang bersifat constraint-based. Proses constraint-based dilakukan dengan kalkulasi berbagai alternatif routing untuk memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dalam kebijakan administratif. Tujuannya adalah untuk mengurangi pekerjaan manual dalam TE.

Setelah pemilihan, dilakukan penempatan path dengan menggunakan protokol persinyalan, yang juga merupakan protokol distribusi label. Ada dua protokol jenis ini yang sering dianjurkan untuk dipakai, yaitu RSVP-TE dan CR-LDP. Manajemen path juga mengelola pemeliharaan path, yaitu menjaga path selama masa transmisi, dan mematikannya setelah transmisi selesai.

Terdapat sekelompok atribut yang melekat pada LSP dan digunakan dalam operasi manajemen path. Atribut-atribut itu antara lain:
·         Atribut parameter trafik, adalah karakteristrik trafik yang akan ditransferkan, termasuk nilai puncak, nilai rerata, ukuran burst yang dapat terjadi, dll. Ini diperlukan untuk menghitung resource yang diperlukan dalam trunk trafik.
·         Atribut pemilihan dan pemeliharaan path generik, adalah aturan yang dipakai untuk memilih route yang diambil oleh trunk trafik, dan aturan untuk menjaganya tetap hidup.
·         Atribut prioritas, menunjukkan prioritas pentingnya trunk trafik, yang dipakai baik dalam pemilihan path, maupun untuk menghadapi keadaan kegagalan network.
·         Atribut pre-emption, untuk menjamin bahwa trunk trafik berprioritas tinggi dapat disalurkan melalui path yang lebih baik dalam lingkungan DiffServ. Atribut ini juga dipakai dalam kegiatan restorasi network setelah kegagalan.
·         Atribut perbaikan, menentukan perilaku trunk trafik dalam kedaan kegagalan. Ini meliputi deteksi kegagalan, pemberitahuan kegagalan, dan perbaikan.
·         Atribut policy, menentukan tindakan yang diambil untuk trafik yang melanggar, misalnya trafik yang lebih besar dari batas yang diberikan. Trafik seperti ini dapat dibatasi, ditandai, atau diteruskan begitu saja.
·         Atribut-atribut ini memiliki banyak kesamaan dengan network yang sudah ada sebelumnya. Maka diharapkan tidak terlalu sulit untuk memetakan atribut trafik trunk ini ke dalam arsitektur switching dan routing network yang sudah ada.

2.      PENEMPATAN TRAFIK
Setelah LSP dibentuk, trafik harus dikirimkan melalui LSP. Manajemen trafik berfungsi mengalokasikan trafik ke dalam LSP yang telah dibentuk. Ini meliputi fungsi pemisahan, yang membagi trafik atas kelas-kelas tertentu, dan fungsi pengiriman yang memetakan trafik itu ke dalam LSP.


3.      PENYEBARAN KEADAAN NETWORK
Penyebaran ini berfungsi membagi informasi topologi network ke seluruh LSR didalam network. Ini dilakukan dengan protocol gateway seperti IGP yang telah diperluas. Perluasan informasi meliputi bandwidth link maksimal, alokasi trafik maksimal, pengukuran TE default, bandwidth yang dicadangkan untuk setiap eklas priotritas, dan atribut-atribut kelas resource.

4.      MANAJEMEN NETWORK
Performansi MPLS-TE tergantung pada kemudahan mengukur dan mengendalikan network. Manajemen network meliputi konfigurasi network, pengukuran network, dan penanganan kegagalan network.
Pengukuran terhadap LSP dapat dilakukan seperti pada paket data lainnya. Traffic flow dapat diukur dengan melakukan monitoring dan menampilkan statistika hasilnya. Path loss dapat diukur dengan melakukan monitoring pada ujung-ujung LSP, dan mencatat trafik yang hilang. Path delay dapat diukur dengan mengirimkan paket probe menyeberangi LSP, dan mengukur waktunya. Notifikasi dan alarm dapat dibangkitkan jika parameter-parameter yang ditentukan itu telah melebihi ambang batas.

5.      PROTOKOL PERSINYALAN
Administrator, atau secara otomatis oleh suatu protokol persinyalan. Dua protokol persinyalan yang umum digunakan untuk MPLS-TE adalah CR-LDP dan RSVP-TE. RSVP-TE memperluas protokol RSVP yang sebelumnya telah digunakan untuk IP, untuk mendukung distribusi label dan routing eksplisit. Sementara itu CR-LDP memperluas LDP yang sengaja dibuat untuk distribusi label, agar dapat mendukung persinyalan berdasar QoS dan routing eksplisit.
Ada banyak kesamaan antara CR-LDP dan RSVP-TE dalam kalkulasi routing yang bersifat constraint-based. Keduanya menggunakan informasi QoS yang sama untuk menyusun routing eksplisit yang sama dengan alokasi resource yang sama. Perbedaan utamanya adalah dalam meletakkan layer tempat protokol persinyalan bekerja. CR-LDP adalah protokol yang bekerja di atas TCP atau UDP, sedangkan RSVP-TE bekerja langsung di atas IP. Perbandingan kedua protokol ini dipaparkan dalam tebal berikut [Wang 2001]





DAFTAR PUSTAKA

1 komentar:

Riki Tanzila mengatakan...

mantap gan. keep posting :*

Posting Komentar